Senin, 11 November 2013

Mimbar Masjid Gedhe Saksi Mesranya Hubungan Mataram - Palembang


HADIRNYA Sultan Palembang Iskandar Mahmud Badaruddin dalam kirab Ambengan Gunungan Kuliner Kotagede beberapa waktu lalu, juga mengingatkan bagaimana keakraban diplomatik antara Kasultanan Palembang dengan kerajaan Mataram pada masa Panembahan Senopati hingga Sultan Agung.


“Keakraban bisa terlihat dengan diwakafkan mimbar untuk Masjid Gedhe Mataram Kotagede,” ungkapnya ketika memberi sambutan sebelum rayahan gunungan. Mimbar itu diberikan Sultan Palembang ketika sepulang dari menunaikan haji, Sultan Agung mampir ke Kasultanan Palembang (ada yang bilang Kadipaten Palembang). Ketika pulang, dihadiahi mimbar sebagai oleh-oleh untuk dibawa ke Mataram. Mimbar tersebut masih bisa dilihat sampai sekarang. Sebuah mimbar kayu yang diukir indah, dengan berbagai hiasan yang sangat menarik.

Kedekatan Mataram dengan Palembang juga dengan adanya makam datuk dari Palembang di makam raja-raja Kotagede. Makam Datuk Palembang berada di dekat makam Nyi Ageng Nis, dan Panembahan Jayaprana. Hanya saja tidak banyak sumber data tentang siapa Datuk Palembang yang dimakamkan di situ.

Hubungan yang akrab antara Mataram dengan Kasultanan Palembang juga karena merasa sama-sama keturunan Raden Patah dari Demak. Kasultanan Palembang merasa terlindungi oleh Mataram, ketika pada tahun 1596 Palembang diserang armada dari Banten, bala bantuan dari Mataram berhasil memukul mundur pasukan Banten. Hanya saja sejak Mataram dipimpin Sunan Amangkurat I, hubungan Kasultanan Palembang dengan Mataram sedikit renggang. Banyaknya intrik di kerajaan Mataram membuat kerajaan yang sempat besar itu kurang memperhatikan hubungan dengan negara sahabat. Apalagi ketika pengaruh Belanda makin masuk dalam tata pemerintahan di Mataram.

Seperti Mataram, Kasultanan Palembang juga menjadi incaran VOC. Mula-mula minta izin mendirikan benteng, namun kemudian berusaha untuk menguasai. Tanggal 24 November 1659, istana dan kota Palembang dibakar oleh serdadu VOC.

“Namun seperti kerajaan-kerajaan pewaris Mataram, Kasultanan Palembang tidak menyerah. Walau empat sultan dibuang, namun perlawanan tetap terus berlangsung,” ungkap Sultan Palembang menceritakan tentang gigihnya perjuangan Palembang melawan VOC. (Hamid Nuri)

Repost from kotagedeheritage.org
 
;