Senin, 18 November 2013

Sido Semi Jilid I



Sejarah Warung Ys Sido Semi adalah sejarahnya keluarga Dalijan Mulyo Hartono. Berbeda dengan Sido Semi, nama terakhir ini memang bukan nama yang banyak dikenal orang. Namun, tanpa Dalijan Mulyo Hartono, Sido Semi tentu tidak akan pernah lahir.


Ceritanya begini. Di tahun 1950-an, Pak Mul muda njuragan perak kecil-kecilan dengan 10 sabat. Akan tetapi, setiap hari Jum’at dan Sabtu, selalu saja penghasilannya pas-pasan. Bahkan tidak jarang, malah nombok. Apalagi ketika ada juragan lain yang berbuat curang, mencampur perak dengan mbogo. Rusaklah pasaran perak Kotagede waktu itu. Dan juragan kecil seperti Pak Mul ikut kena getahnya.

Terus ada yang mengusulkan, “Mbangane tombok terus, mbok jajal bukak warung es.” Pikir punya pikir, apa salahnya dicoba. Akhirnya peralatan perak pun dilego. Dan mulailah Pak Mul membuka warung. Pertama kali magrok di dekat pintu masuk Kompleks  Makam Panembahan Senopati, sekitar 50 meter di utara warung yang sekarang. Magrok di sini tidak berlangsung lama, lalu pindah ke lokasi baru, Jalan Watu Cantheng  yang sekarang ditempati.

Pada awalnya hanya menjual aneka minuman, itu pun tanpa papan nama. Ketika pelanggannya sudah mulai banyak, menu minumannya pun bertambah pepak. Tak hanya es, namun juga bermacam wedang, seperti wedang sari dhele, wedang sitrun, wedang djae, wedang kopi tape, dan wedang soklat. 

            Ketika Pak Karno lengser dan Pak Harto muncul, anak-anak sekolah banyak yang mengusulkan menunya ditambahi bakso. Demi menuruti permintaan pelanggan, Pak Mul belajar keras caranya membuat bakso pada guru bakso di Sidikan. Setengah tahun berjalan baik, resepnya sudah pas. Para pelanggan pun sudah banyak yang cocok. Jadilah bakso melengkapi aneka menu khas  Sido Semi. (Bersambung ke Sido Semi Jilid II)

Sumber Bacaan:  Sido Semi, Brosur Lebaran No.39, 2000. Wawancara Jimy Jeniarto, Endhy Dwi Hartomi, AH.

Repost from kotagedeheritage.org
 
;