Senin, 25 November 2013

Sido Semi Jilid II


Selain bakso, menu es kacang ijo plus ketan pun Pak Mul pelajari dari orang lain. Resep minuman cespleng ini dikulak dari Suradi, anak Kediri yang waktu itu sekolah di Jogja. Mula-mula pakai juruh gula pasir. Tetapi karena gula pasir harganya terus melambung, maka juruhnya pun diganti gula Jawa. Kok dadi tambah jos. Ya sudah, juruh gula jawa pun dipakai hingga kini.



            Minuman limun saparella pun memiliki jejak panjang di warung ini. Dulu, yang menjadi andalan adalah limun merek Djangkar dan Hercules. Kini, merek-merek legendaris tersebut sudah tak diketahui rimbanya. Namun, pecandu limun masih bisa terobati dahaganya di warung ini. Ya, meski mereknya lain.


            Menurut Pak Mul, masa keemasan Sido Semi adalah saat harga es kacang ijo Rp 20.- Saat itu, industri kerajinan di Kotagede sedang gayeng-gayengnya. Setiap Sabtu sore, warung Sido Semi tak pernah berhenti dijubeli pembeli. Sepeda yang diparkir pun sampai memenuhi separo jalan. Di masa itu, Sido Semi merupakan tempat melepas penat paling mewah bagi para pekerja Kotagede. 

Sebagian besar pelanggan Sido Semi adalah karyawan perusahaan perak dan kerajinan sungu. Di masa keemasan Kotagede itulah Sido Semi berjaya. “Karena keadaan yang baik seperti itu, warungnya saya beri nama Sido Semi,” sergah Pak Mul menerawang masa lalu. 


Kini Pak Mul telah tiada. Warung Sido Semi pun diteruskan oleh cucu-cucunya. Mereka guyup rukun bahu membahu meneruskan warung es yang menjadi ikon Kotagede ini.



Sumber Bacaan:

1.      Sido Semi, Brosur Lebaran No.39, 2000. Wawancara Jimy Jeniarto, Endhy Dwi Hartomi, AH.

2.      Mangga Mampir, Syafaruddin Murbawono, 2009.


Repost from kotagedeheritage.org
 
;