Senin, 13 Januari 2014

Ki Ageng Karang Lo II




Sebagai raja yang bijaksana, Panembahan Senapati melaksanakan nasehat ayahnya. Kala itu, Ki Ageng Karang Lo bertempat tinggal di Wiyara, dusun yang berada sekitar satu setengah kilometer di timur laut Pasar Kotagede. Puteri Panembahan Senapati, yaitu Ratu Pembayun, dirawat dan amat disayang oleh Ki Ageng Karang Lo. Ratu Pembayun tumbuh menjadi puteri yang cantik.


                Ketika menginjak dewasa, Ratu Pembayun melaksanakan tugas ayahnya untuk memperdaya Ki Ageng Mangir Wanabaya, musuh bebuyutan Mataram. Pembayun menyamar sebagai ledhek, penari yang hidup di tengah masyarakat. Akhirnya Pembayun dan Ki Ageng Mangir bertemu. Keduanya saling jatuh cinta dan menikah. Dalam keadaan hamil, Pembayun diantar baik-baik oleh sang suami untuk menghadap Panembahan Senapati.

                Namun, dalam sebuah pertemuan keluarga, Panembahan Senapati menje­bak dan membunuh Ki Ageng Mangir, musuh sekaligus menantunya. Ketika hendak sungkem (menyembah), kepala Ki Ageng Mangir dibenturkan ke watu gilang oleh Panembahan Senapati. Peristiwa dramatik ini terjadi di depan mata Pembayun yang sedang mengandung janin Ki Ageng Mangir. Demi memperkokoh sistem politik ekspansi Mataram, kebahagiaan Ratu Pembayun dan masa depan janin yang dikandungnya, terpaksa harus disisihkan.

                Kematian Ki Ageng Mangir membuat Ratu Pembayun sangat berduka. Melihat perkembangan keadaan puterinya, Panembahan Senapati tidak tega. Untuk sedikit mengobati kesedihan Pembayun, Panembahan Senapati lalu menikahkan puterinya dengan Ki Ageng Karang Lo. Hal ini dijalankan untuk memenuhi pesan Sunan Kalijaga agar keluarga Ki Ageng Pemanahan selalu membawa Ki Ageng Karang Lo dalam setiap kebahagiaan mereka. Ratu Pembayun dan Ki Ageng Karang Lo hidup bersama, hingga meninggal dunia. Mereka dimakamkan di Dusun Karang Turi. Saat ini, makam Ki Ageng Karang Lo dan Ratu Pembayun termasuk dalam kategori tempat-tempat keramat bersejarah.

                Kini, Ki Ageng Karang Lo diabadikan menjadi nama jalan di sepanjang kurang lebih 1,5 km, mulai dari selatan Kantor Pos Kotagede hingga dusun Karangturi, Banguntapan, Bantul.
               
Sumber Referensi:
Toponim Kotagede, 2011:  Erwito Wibowo, Hamid Nuri, Agung Hartadi.
Ensiklopedi Kotagede, 2005: Rizon Pamardhi Utomo


Repost from kotagedeheritage.org
 
;